Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

mewah

Riset : Orang yang Menggunakan Baju Merek Mewah Saat Kerja Cenderung Tidak Kooperatif

Berita Baru, Amerika Serikat – Jika Anda telah dan suka berbelanja secara royal pada item baju desainer baru yang mewah , Anda mungkin tergoda untuk memakainya ke kantor tempat anda bekerja.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, pada 12 Mei, tetapi sebuah studi baru menunjukkan bahwa dengan memamerkan merek-merek mewah seperti pakaian di tempat kerja bisa menjadi ide yang buruk.

Peneliti dari University of Michigan menemukan bahwa orang yang menampilkan merek mewah dan tanda status lainnya lebih cenderung terlihat tidak kooperatif.

“Secara umum diasumsikan bahwa status pensinyalan dapat secara strategis menguntungkan orang-orang yang ingin tampil berkelas, mengapa lagi orang membayar mahal untuk produk dengan logo mewah yang tidak memiliki manfaat fungsional lain?” kata Dr Shalena Srna, penulis utama studi tersebut.

“Tapi itu juga bisa menjadi bumerang dengan membuat mereka tampak lebih mementingkan diri sendiri.”

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang yang tampak kaya cenderung terlihat lebih cerdas, disiplin, dan kompeten.

Namun, dalam studi baru, tim mulai memahami apakah memamerkan kekayaan Anda juga memengaruhi persepsi orang tentang kesediaan Anda untuk berkolaborasi.

Dalam studi tersebut, tim melakukan enam percobaan yang melibatkan total lebih dari 2.800 peserta.

Dalam satu percobaan, 395 peserta diminta untuk mengevaluasi berbagai profil media sosial untuk menemukan orang-orang yang menurut mereka kooperatif, tidak mementingkan diri sendiri, dan murah hati untuk bergabung dengan komunitas mereka.

Profil tersebut memiliki posting netral, seperti “Saya melihat anak anjing paling lucu hari ini! #goldenretrievers,” atau postingan yang menunjukkan status sosial tinggi, seperti “Menuju Kota Madrid! #kelas utama #mewah.”

Hasilnya mengungkapkan bahwa peserta cenderung tidak merekomendasikan profil untuk bergabung dengan komunitas mereka jika mereka memiliki postingan yang menandakan status sosial tinggi.

Mereka juga menilai profil ini lebih kaya, lebih peduli dengan status, dan cenderung tidak peduli dengan orang lain.

Dalam percobaan lain, 1.345 peserta diminta untuk membayangkan mereka membuat profil media sosial mereka sendiri, dan harus memilih apa yang akan dikenakan untuk gambar profil mereka.

Peserta diberitahu bahwa mereka sedang dipilih untuk grup online. Namun, hanya separuh yang diberitahu bahwa kelompok yang mereka harapkan untuk bergabung sedang mencari orang yang kooperatif.

Pilihan pakaian termasuk merek mewah seperti Prada atau Gucci, merek non-mewah seperti Sketchers, atau pakaian tidak bermerek.

Hasilnya mengungkapkan bahwa peserta yang mencoba tampil sebagai pemain tim kooperatif cenderung tidak memilih pakaian mewah untuk foto profil mereka.

Namun, peserta sama-sama cenderung memilih untuk memakai merek non-mewah, apakah kerja sama ditekankan atau tidak.

People who wear more modest clothing in the office (stock image) are more likely to be seen as cooperative
Orang yang mengenakan pakaian yang lebih sederhana di kantor lebih cenderung terlihat kooperatif

“Eksperimen ini menunjukkan bahwa orang terbiasa ketika nilai logo mewah beralih dari positif ke negatif,” kata Dr Srna.

“Orang tidak hanya strategis tentang kapan harus memberi isyarat status, mereka juga strategis tentang kerendahan hati.”

Sementara kesopanan tampaknya menjadi kunci ketika kerja sama sangat penting, para peneliti menekankan bahwa merek mewah mungkin bermanfaat ketika memilih anggota kelompok berdasarkan ciri-ciri lain.

Misalnya, peserta lebih cenderung memilih seseorang yang menunjukkan kekayaan mereka ketika mencari anggota tim yang kompetitif.

Temuan menunjukkan bahwa orang dapat mengubah cara mereka menampilkan diri tergantung pada tujuan sosial mereka.

“Memposting tentang pembelian mewah dan liburan mahal Anda di Instagram atau TikTok dapat membantu Anda membujuk orang lain, mengintimidasi pesaing, dan berhasil di aplikasi kencan setidaknya untuk pria.”

“Tapi itu juga bisa memberi sinyal kepada calon teman atau calon majikan bahwa Anda tidak mungkin memikirkan kebutuhan orang lain,” kata Dr Srna.

“Ini menjadi tindakan penyeimbang yang rumit bagi orang-orang yang mungkin ingin membuat orang lain terkesan sambil juga menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi “pemain tim”.”